Media sosial, khususnya Instagram, memiliki potensi besar sebagai sarana dakwah dalam era digital. Instagram menyediakan platform yang memungkinkan pendakwah untuk menyampaikan pesan melalui teks, gambar, video, dan fitur interaktif seperti cerita (stories) atau siaran langsung (live). Namun, efektivitas dakwah di platform ini tidak terlepas dari berbagai hambatan yang muncul baik dari sisi teknis, sosial, maupun budaya digital. Salah satu hambatan terbesar dalam dakwah di Instagram adalah algoritma platform yang kompleks. Algoritma Instagram cenderung memprioritaskan konten yang mendapatkan interaksi tinggi, seperti jumlah suka, komentar, dan berbagi (share), dalam waktu singkat. Hal ini menyebabkan pesan dakwah yang sifatnya lebih mendalam dan reflektif sering kali kalah bersaing dengan konten hiburan yang bersifat ringan dan instan. Penelitian (Bucher, 2019) menyebutkan bahwa algoritma media sosial tidak dirancang untuk mendukung konten yang memerlukan refleksi panjang, melainkan untuk mendorong keterlibatan cepat dari pengguna. Dengan demikian, pendakwah sering kali harus beradaptasi dengan format yang lebih menarik secara visual dan emosional agar pesan mereka tetap terlihat. Selain itu, respons audiens terhadap pesan dakwah di Instagram juga menjadi tantangan tersendiri. Generasi muda yang menjadi pengguna utama Instagram cenderung lebih skeptis terhadap pesan-pesan keagamaan yang dianggap terlalu formal atau kurang relevan dengan gaya hidup mereka. banyak pengguna muda memilih untuk menghindari konten religius karena menganggapnya tidak menarik atau terlalu berat. Akibatnya, pendakwah perlu menemukan cara untuk mengemas pesan mereka agar relevan dan menarik tanpa mengurangi esensi dari nilai-nilai yang ingin disampaikan. Hambatan lain yang signifikan adalah adanya budaya digital yang mengutamakan hiburan instan. (Postman, 1987) menjelaskan bahwa dalam era digital, audiens lebih tertarik pada konten yang memberikan kepuasan segera, baik dalam bentuk visual maupun emosional. Dakwah, yang secara tradisional membutuhkan proses refleksi mendalam, sering kali tidak selaras dengan preferensi audiens di era digital ini. Hal ini memaksa pendakwah untuk memikirkan kembali strategi penyampaian pesan, seperti menggunakan humor, ilustrasi visual yang menarik, atau narasi cerita yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Tidak hanya itu, hambatan teknis juga menjadi kendala dalam dakwah di Instagram. Beberapa akun dakwah sering menghadapi risiko terkena pembatasan oleh algoritma platform karena dianggap tidak sesuai dengan kebijakan komunitas. Konten dakwah yang menyinggung isu sensitif, meskipun penting dari sudut pandang keagamaan, sering kali dianggap sebagai pelanggaran dan dibatasi jangkauannya. Hal ini menimbulkan dilema bagi pendakwah antara menyampaikan kebenaran atau menyesuaikan pesan agar dapat diterima oleh platform. Namun, tantangan ini bukan tanpa solusi. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan kualitas visual dari konten dakwah. Konten yang dilengkapi dengan desain grafis profesional, animasi menarik, atau video yang diproduksi dengan baik memiliki peluang lebih besar untuk menarik perhatian audiens. (Yusuf, 2018) menyarankan bahwa elemen visual yang kreatif dapat menjadi kunci keberhasilan dakwah di platform seperti Instagram. Selain itu, memanfaatkan fitur-fitur Instagram, seperti kolaborasi dengan pembuat konten populer atau menggunakan Instagram Ads, dapat membantu meningkatkan jangkauan pesan dakwah. Pendakwah juga dapat menggunakan pendekatan berbasis komunitas untuk memperkuat interaksi dengan audiens. Membentuk komunitas digital yang aktif melalui grup diskusi atau sesi tanya jawab langsung dapat menciptakan hubungan yang lebih personal dan meningkatkan keterlibatan audiens. Dalam komunitas seperti ini, pendakwah dapat lebih mudah memahami kebutuhan dan preferensi audiens serta menyampaikan pesan yang lebih relevan. Sebagai langkah jangka panjang, diperlukan literasi digital yang lebih baik di kalangan pendakwah. Literasi ini mencakup pemahaman tentang algoritma, tren digital, dan cara memanfaatkan platform media sosial secara efektif. Dengan menguasai keterampilan ini, pendakwah dapat memaksimalkan potensi Instagram sebagai sarana dakwah yang tidak hanya menarik tetapi juga memberikan dampak yang mendalam bagi audiens.
Secara keseluruhan, dakwah di Instagram menghadapi berbagai hambatan yang kompleks, mulai dari tantangan teknis hingga budaya digital. Namun, dengan strategi adaptif yang berbasis kreativitas, kolaborasi, dan pemahaman mendalam terhadap audiens, hambatan tersebut dapat diatasi. Penelitian ini memberikan gambaran penting tentang dinamika dakwah di era digital dan menawarkan panduan untuk meningkatkan efektivitas dakwah di media sosial, khususnya Instagram.
Muhammad Aras
2420203870133006
PROGRAM PASCASARJANA KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM IAIN PAREPARE