Perkembangan teknologi informasi yang pesat telah mengubah lanskap komunikasi,termasuk dalam konteks dakwah Islam. Media sosial tidak lagi hanya menjadi sarana hiburan, tetapi telah bertransformasi menjadi medium strategis untuk menyampaikan nilai-nilai Islam Rahmatan lilAlamin. Dalam hal ini, media sosial menyediakan ruang untuk membangun narasi yang menonjolkan esensi Islam sebagai agama yang universal,inklusif, dan relevan dengan tantangan zaman.
Kadam Sidik, melalui konten dakwahnya yang kreatif, telah menunjukkan bagaimana platform digital dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan dengan pendekatan yang menarik dan kontekstual. Pendekatan ini tidak hanya menarik perhatian audiens, tetapi juga mendorong terciptanya dialog interaktif yang memperkuat pemahaman mereka terhadap nilai-nilai Islam (Sholihul Huda, 2022).
Keberhasilan dakwah digital tidak hanya bergantung pada kemampuan menyampaikan pesan, tetapi juga pada pemahaman mendalam terhadap kebutuhan dan preferensi audiens. Generasi muda, yang merupakan pengguna mayoritas media sosial, cenderung lebih menyukai konten yang informatif namun disampaikan secara ringan dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Kadam Sidik memanfaatkan hal ini dengan menciptakan video pendek yang memadukan nilai- nilai Islam dengan isu-isu sosial yang sedang tren, sehingga pesan dakwah dapat tersampaikan tanpa terasa menggurui. Strategi ini mencerminkan adaptasi dakwah terhadap perkembangan budaya digital, dimana pendekatan inklusif menjadi kunci untuk menjangkau audiens yang lebih luas (Alamsyah, 2024).
Selain itu, keberhasilan dakwah digital juga ditentukan oleh kemampuan pendakwah dalam memanfaatkan algoritma media sosial. Konten yang dirancang dengan memperhatikan aspek teknis, seperti pemilihan kata kunci yang relevan, visualisasi yang menarik, dan waktu publikasi yang tepat, memiliki peluang lebih besar untuk mencapai audiens yang lebih luas. Dalam hal ini, Kadam Sidik menggunakan pendekatan berbasis data untuk memahami tren dan perilaku pengguna media sosial, sehingga kontennya tidak hanya informatif, tetapi juga memiliki daya tarik yang kuat. Pendekatan berbasis data ini memperlihatkan bagaimana dakwah dapat dikemas secara strategis untuk meningkatkan jangkauan dan dampaknya (Kasir, 2024).
Namun, dalam keberhasilannya, dakwahdigital juga menghadapi berbagai tantangan, seperti risiko distorsi pesan, penyebaran hoaks, dan eksploitasi media sosial oleh kelompok yang menyimpang dari nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, penting bagi para pendakwah untuk tidak hanya kreatif, tetapi juga kritis dan selektif dalam menggunakan platform digital. Dakwah yang berbasis nilai Islam Rahmatan lilAlamin harus mampu menonjolkan esensi Islam sebagai agama yang damai dan toleran, tanpa terjebak dalam polarisasi atau narasi negatif yang sering kali muncul dimedia sosial. Sebagai langkah konkret, kolaborasi antara pendakwah, akademisi, dan praktisi teknologi informasi dapat menjadi solusi untuk menciptakan ekosistem dakwah digital yang lebih sehat dan berkelanjutan untuk kedepannya (Fil, 2022).